jambi Kerinci Brilyant.News.com- Fenomena langka tengah melanda Danau Kerinci. Selama sepekan terakhir, debit air danau kebanggaan masyarakat Kerinci ini mengalami penyusutan drastis. Pantauan di lapangan menunjukkan bibir air mundur sejauh 10 hingga 20 meter, mengungkap hamparan dasar danau yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan air.

Berkah di Tengah Kekeringan

Bagi sebagian warga, surutnya air danau justru mendatangkan rezeki nomplok. Hamparan lumpur yang muncul kini menjadi ladang perburuan lokan dan remis. Marwan, warga Tanjung Batu, mengaku fenomena ini memudahkannya mengais rezeki.

“Sekarang lokan dan remis mudah ditemukan karena air surut jauh. Dalam sehari saya bisa mengumpulkan 40 sampai 60 kilogram. Harganya sekitar Rp2.000 per kilonya,” ujar Marwan.

Tak hanya warga lokal, fenomena ini juga menarik perhatian warga Kota Sungai Penuh. Nelly, salah seorang pengunjung, mengaku sengaja datang karena penasaran. “Sambil jalan-jalan melihat fenomena unik ini, saya juga ikut mencari lokan bersama warga lain,” tuturnya.

Kerusakan DAS dan Cuaca Ekstrem

Namun, di balik kegembiraan para pencari lokan, tersimpan ancaman lingkungan yang serius. Pengamat lingkungan setempat menyebut penyusutan ini merupakan yang terparah dan pertama kali terjadi dengan skala seperti sekarang.

Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan diperparah oleh kerusakan hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Kerinci. DAS Batang Merao, DAS Jujun, dan DAS Pulau Tengah dilaporkan mengalami penurunan debit air yang sangat signifikan.

“DAS Batang Merao yang biasanya memiliki kedalaman 1 hingga 3 meter, kini menyusut drastis hanya tersisa sekitar 1 meter. Bahkan Sungai Jujun dilaporkan mengalami kekeringan. Jika suplai air dari hulu mati, Danau Kerinci terancam kehilangan ekosistemnya,” ungkap pengamat tersebut.

PLTA Kerinci Merangin Hydro Mulai Khawatir

Dampak penyusutan ini tidak hanya menyasar sektor perikanan dan pertanian, tetapi juga sektor energi. Pihak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci Merangin Hydro (KMH) mulai menaruh kekhawatiran besar. Pasalnya, air Danau Kerinci merupakan sumber utama penggerak turbin pembangkit listrik mereka.

“Kami sangat khawatir. Jika debit air terus menurun, operasional turbin tentu akan terganggu,” ungkap pihak PLTA-KMH.

Mendesak Penanganan Pemerintah

Masyarakat dan pengamat lingkungan mendesak Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Provinsi Jambi untuk segera mengambil langkah nyata. Pemulihan lingkungan di kawasan hulu DAS menjadi harga mati agar ketersediaan air tetap terjaga. Jika dibiarkan berkelanjutan, ekosistem danau akan hancur, yang pada akhirnya akan merugikan sektor perikanan dan pertanian masyarakat setempat.

(RK )